Tradisi Nyadran dan Padusan
Begitu banyak tradisi menjelang bulan ramadhan, terutama di desa – desa yaitu nyadran dan padusan. Seperti hari ini kami pulang klaten tepatnya di desa ngawen.
Nyadran
Tradisi nyadran bagi orang jawa dilakukan pada bulan ruwah atau sya`ban. Awal kata Ruwah adalah arwah. Setiap memasuki bulan Ruwah masyarakat jawa memperingati dengan tilik kubur, ziarah kubur dan bersih makam. Waktu pelaksanaan nyadran biasanya dipilih pada tanggal 15, 20, dan 23 Ruwah atau sya’ban. Berdasar paham mudhunan dan munggahan, yaitu paham yang meyakini bulan Ruwah sebagai saat turunnya arwah para leluhur untuk mengunjungi anak cucu di dunia. Terlepas dari itu semua nyadran lebih pada kegiatan bersih makam dan doa bersama.
Acara prosesi nyadran diawali dengan setiap keluarga membuat kue apem dan ketan kolak. Adonan tiga jenis penganan dimasukkan dalam takir, yaitu tempat makanan terbuat dari daun pisang yang di kanan-kiri ditusuk lidi (biting). Makanan ini dibawa ke pemakaman dengan menggunakan sejumlah jodang atau tandu. Di areal pemakaman warga menggelar kenduri/ doa bersama bagi kerabat mereka yang telah meninggal dunia.
Meskipun tradisi ini penuh perdebatan antara ulama tapi tradisi ini merupakan suatu ajang silahturahmi, bentuk gotong royong, pelebur segala perbedaan. Dan yang penting niatnya niat baik, gitu kaleee hehehe.
Padusan
Acara renang di pemandian jolotundo ini bukan dalam rangka padusan loh tapi buat acara keluarga, terutama ponakan – ponakan yang masih anak – anak. Karena masih 2 hari menjelang puasa jadi masih sepi. Alhasil waktu kesana 90% yang di pemandian ini rombongan kami ( lihat foto). Super big family yeh.
Pemandian Jolotundo ini salah satu yang digunakan untuk padusan juga alias mandi untuk bersuci sehari sebelum puasa. Letaknya di Desa Jambeyan, Kecamatan Karanganom. Jarak dari kota Klaten ± 8 km. Fungsi utama sih sebagai tempat permandian tentunya.
Menurut cerita penduduk di sekitar umbul, konon pada jaman dahulu ada seorang Demang yang tinggal di sekitar umbul Jolotundo, dia mempunyai seorang putri yang bernama Roro Amis, karena mempunyai sakit kulit yang berbau amis yang mempunyai kegemaran berenang dan berakit di umbul dengan rakit pohon pisang. Karena suatu hal Roro Amis jatuh ke umbul, kakinya tertusuk sompil / keong kecil sehingga sakitnya sembuh dan sompil di sendang tersebut semua menjadi tumpul. Kemudian Roro Amis tersebut bersabda : Bahwa sompil yang ada di umbul Jolotundo menjadi tumpul semua dan juga punya sumpah bahwa disekitar umbul tidak akan tumbuh pohon pisang. Maka kalau sampai ditanam dapat tumbuh akan mengakibatkan bahaya bagi penduduk disekitar umbul.
Apapun legendanya, apapun tradisinya tidak akan mengurangi kekhusyukan kita untuk menunaikan ibadah puasa
Comments
21 Responses to “Tradisi Nyadran dan Padusan”
Apapun legendanya, apapun tradisinya tidak akan mengurangi kekhusyukan kita untuk menunaikan ibadah puasa
penutupnya boleh juga.
hampir sama, ditempat saya juga demikian, meskipun beda nama, tapi intinya sama, masyarakat senang dengan dipertemukannya dengan bulan ramadhan, artinya ada kesempatan untuk melebur kesalahan, memasuki candradimuka, dan kesempatan besar itu ada di bulan ramadhan.
jadi, saya pikir, wajar saja, sebagai bentuk suka cita menyambut Ramadhan.
Kami sekeluarga di Batam mengucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan 1429 H. Semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT.
selamat menunaikan ibadah puasa…
wah, dapat info tentang Nyadran nih..
selamat menjalankan ibadah puasa
Wah saya lama sekali ndak kesini …
Selamat menunaikan ibadah puasa …
BTW …
Tulisan posternya …
Jangan Lewatkan “Goyang Heboh” Padusan di Jolotundo … waduh ini mumpung belum puasa ya ?
hehhee
wah..dah lama banget kg ke jolotundo..waktu kecil sering kesana..naik sepeda.
coklat (cowok klaten)
September 1st, 2008 1:22 pm
Wah… kemarin aku juga balik klaten dan ternyata rame-ne pol, sampai susah mobil bergerak..
di kampung ku juga masih banyak kebiasaan seperti itu !!!
met jalani indahnya Ramadhan
mohon maaf lahir dan bathin
ya semoga ritual itu tidak condong kesyirik ya.Amin
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Salam kenal..
selamat menunaikan ibadah sahaum ramadhan. dan mari kita kembangkan keran2 silaturrahiem melalui dunia blog, silturahiem: intelektual, emosional dan spiritual..
salam………….
waaah, kl za udah nggak tau ada tradisi seperti itu….:D . Seru keqnya ya kl berenang pas siang siang gini…..=P~
kalo padusan di jakarta dengan kondisi sungai yang sekarang gimana yah?
Saya pernah baca postingan ini juga di Blog sahabat tentang padusan dan nyadran…menarik juga
Saya belum pernah ke klaten.. tapi dari ceritanya asyik juga ya di sana. semoga kapan-kapan bisa mampir disana dan untuk ritualnya semoga ga jadi kebiasaan yang mengarah pada syirik dan bid’ah…
Selamat beribadah di bulan Ramadhan.. semoga amalannya di terima. Murnikan niat dan sesuaikan dengan Syari’at
selamat berpuasa…
met ber ramadhan…
pas aku di jogja,kisaran umur klas 2 STM..masih ada….
sekarang kolamnya udah ga ada….udah jadi lapanngan bulu tangkis…
eh,met puasa ye…
Selamat Menunaikan IBADAH.
Semoga Tetap diberi Kekuatan Ber IBADAH.
Salam Kenal.
tante…
[...]Tradisi Nyadran dan Padusan : Leah Blog[...]…
Leave a Reply






saya sudah sering mendengar tradisi menyamut ramadhan di klaten, mbak leah. ingin sesekali saya menikmati suasana “ritual” semacam itu. sayang, sampai sekarang belum kesampaian juga. asalkan ndak sampai menimbulkan sikap syirik, tradisi semacam itu kok boleh-boleh saja, mbak. jika perlu dikemas menjadi lebih bagus agar menjadi objek wisata ritual.