Ke shopping center
Akhirnya ke beli juga buku laskar pelangi langsung ke 1, 2,3. Apalagi kabarnya bakal di filmkan eh dah mulai syuting pa yah?. Jadi bagiku wajib baca bukunya dulu baru nonton filmnya. Kebetulan ada teman dari klaten main ke jogja trus minta anterin ke shopping center alias pasar buku. lho? iya soalnya tempatnya seperti pasar modern berlantai dan bertingkat . Tersedia buku terbaru, buku jaman bahuela pokoknya ada semua dan asyiknya lagi bisa tawar menawar lumayan ngirit khan beli disana. Berdasarkan hasil tawar menawar dan hitung – menghitung akhirnya dapet potongan 50 rb hehehe. 50 rb -nya beli sandal croc buat stella.
Oh iya seminggu yang lalu juga beli buku – buku ini . Teman – teman ada buku tentang bisnis dan marketing yang wajib di baca ga?
Hayoo ditunggu recomendednya..
Comments
15 Responses to “Ke shopping center”
shopping centre itu toko buku ya…
Laskar Pelangi memang keren banged. Wajib tonton kalo filmnya da maen.
Aku sudah baca Laskar Pelangi. Menurutku pujian terhadap novel ini sangat berlebihan. Bagi penggemar sastra atau karya fiksi yang banyak membaca, ada tiga kelemahan novel ini yang sangat menonjol :
1.Sebagai kenangan masa kecil, seharusnya kisah dituturkan dari sudut pandang anak-anak; atau ditulis orang dewasa yang mengerti dunianya anak-anak. Laskar Pelangi ditulis dari sudut pandang orang dewasa, dan terlalu sarat dengan referensi ilmiah, sehingga terkesan seperti ensikolopedi.
2. Novel ini mengenai masa anak-anak penulisnya di Belitong. Tapi anehnya, pembaca tidak mendapat local content yang cukup. Alangkah asyiknya kalau pembaca menjadi tahu mengenai istilah-istilah khas Belitong, termasuk psiko-sosial masyarakatnya. Tapi yang ada di Laskar Pelangi, nama-nama pohon pun pakai istilah latin. Inilah memang kelemahan penulis pemula, apalagi kalau punya banyak pengetahuan : terlalu ambisius memamerkan pengetahuannya.
3. Sebagai novel realis, Laskar Pelangi melakukan pelanggaran serius mengenai apa yang kita sebut LOGIS. Inilah yang membuat sinetron-sinetron Indonsia, termasuk film layar lebar, tidak menarik. Dalam Laskar Pelangi, tokoh Lintang digambarkan sejenius Einstein. Buset, dia kan masih anak SMP.
Lebih parah lagi, waktu memenangkan lomba Cerdas Cermat, tokoh Lintang mengalahkan semua peserta dengan kemenangan mutlak 100 persen. Mustahil bukan ?
Melihat 3 kelemahan di atas, apresiasi yang berlebihan terhadap Laskar Pelangi tampaknya bukan karena alasan yang umum berlaku di dunia sastra atau penulisan kreatif, tapi politik. Ini benar-benar pembodohan dan menyesatkan masyarakat.
Salam Merdeka
Mohon izin nitip link artikelku mengenai “dua tahun bencana lumpur panas lapindo sidoarjo” :
http://ayomerdeka.wordpress.com/2008/05/25/dua-tahun-bencana-lapindo-pidato-presiden/
Terima kasih
Salam Merdeka.
di rumah ada ga ya… *cek di lemari buku*
aku juga udah ada 33nya..tapi koq sepertinya antara buku 1 dan 2, seperti ada yang berubah.. jadinya gak aku terusin…
huhuhu
gimana kalo buku ini : “MEMULAI USAHA DENGAN MODAL ORANG LAIN” ?
coba the world is flat nya thomas friedman ato google story nya david a.vise. menurutku buku2 itu keren. masih banyak yang lain, tpi sebagai referensi, ok! btw, salam kenal!
Kalau saya baca novel ini melalui ebook yang dikirimkan via email oleh para sahabat yang baik hati. Mungkin tergolong bajakkan ya? Tapi kalau dikasih kan nggak pa pa juga. Belum selesai tuh sampai sekarang membacanya. Karena bajakan kali ya?
wah diriku udah baca edensor dan laskar pelangi..
wah..saya membayangkan di kota kecil ada shopping center seperti itu mbak!
saya sudah punya LP 1 2 3.
yang mariyam kasparov? belum keluar juga ya
terlepas dari genre novel tetraloginya Andrea Hirata yang dianggap ngepop, novel2 tersebut memang memiliki kekuatan dari sisi muatan isinya, meski dari style atau gaya pengungkapannya tak terlalu istimewa.
loh kenapa ga bilang blm baca? kan bisa aku kirimin tuh 3 bukunya, udah kelar aku baca skrg numpuk bgitu aja di pojokan
Leave a Reply



Kalau di Jakarta, tempat macam Shopping Jogya, adalah Kwitang segitiga Senen. Buku-bukunya sama, maksudnya sama-sama (ada yang) bajakan dan bekas.
Bedanya, di Kwitang lebih murah karena mereka jualan ga perlu menyewa kios macam di Shopping.
Selamat membaca!
Tabik!