Lilypie 3rd Birthday Ticker

Desa yang kucinta

Alhamdullilah akhirnya hujan dateng juga. Dah beberapa hari ini jogja dah diguyur hujan setelah sebelumnya hawa panas kering dan berdebu. Ada juga yang sudah banjir dan pastinya banyak yang sakit batuk pilek. Begitu juga dengan papa dan stella, dah 3 hari ini batuk pilek. tapi syukurlah dah mulai membaik.

Semalem mimpi berada di gresik. Ahh betapa rindunya sampe kebawa mimpi… ga tau kapan bisa pulang kesana. Ya itulah kadang kita baru menyadari sesuatu itu istimewa saat tak lagi bersama/berada. Mungkin ga ada yang istimewa disana. kota kecil yang ” kaya ” dan sering disebut kota industri, kota santri, kota pudak dan apalagi yah sebutannya. Tapi begitupun disana aku punya kehidupan selam 17 tahun.

Aku kangen desa masa kecilku. Dulu papaku selalu ditempatkan di desa terpencil yang belum ada listrik masuk, pokoknya masih primitif banget kali yah. Buat bangun desa dan memajukan masyarakatnya yang masih buta huruf. Jaraknya dari kota sekitar 20 km dan untuk mencapai desa itu harus melewati alas randu yang sepi , sawah, tambak, dan jalannya pun masih tanah yang kalo musim hujan sulit dilewati.

Seperti cerita yang tak pernah berubah. Pemandangan desa dan keramahan penduduknya tak pernah habis untuk diceritakan. Paling yang kusuka pas musim panen tiba, banyak yang datang membawa sedikit hasil panennya kerumah heheh.. dasar anak2 yah. Sering juga menyelinap2 buat main sama tmn2 pergi kesawah. ( apa kabar yah tmn masa kecilku? 15 tahun ga ketemu apakah kalo bertemu masih saling kenal? ) Soalnya kalo ketauan mama bisa marah besar. bukan marah apa2 sih.. mama takut kenapa- napa soalnya fisikku ga setangguh anak2 desa.

Jika malam tiba walau dengan penerangan sentir tak mengurangi keramaian. Orang2 lebih suka duduk2 di beranda rumah ngobrol sedang anak2 bermain. Tapi aku lebih seringnya nemenin papa dan perangkat desa yang ngajari bbrp orang yang ingin bebas dari buta huruf.

Kadang ini semua seperti cerita orang ke orang tentang desa. Tapi nyatanya aku mengalaminya dan hidup didesa. dan jika aku trus bercerita rasanya tak akan habis . 9 tahun lamanya kemudian pindah tinggal dikotanya karena mengingat aku dan kakakku dah besar biar mengenyam pendidikan di kota saja. Lagian desa juga dah maju dan siap untuk ditinggalkan. listrik dah masuk, penduduknya dah bisa berpikiran terbuka dan bisa baca tulis.

ps : salam rindu buat ortuku, sahabatku dan desa yang tercinta…

Comments

Leave a Reply